Klarifikasi Zaim Saidi Soal “Vaksin serupa Miras”

 

Sejak kemarin malam, ramai viral di media sosial, isu terkait komentar antivaksin yang bermula dari pernyataan Ir Zaim Saidi, mantan aktivis gerakan konsumen, di lini masa Facebook dan tweeternya.

Divaksin atau tidak adalah hak orang tua. Membahas vaksin dengan para dokter itu serupa dengan membahas miras dengan pemabok.

Gemikian cuitan asli di lini masa FB Ir Zaim Saidi. Kontan cuitan itu menjadi viral dan banyak sekali ditanggapi, termasuk dari PB IDI di atas.Aosiasi dokter ini menganggap dalam cuitan itu ada terkandung unsur pelecehan, karena analogi yang dianggap tidak pas itu..

Tapi, benarkah ada unsur pelecehan terhadap profesi dokter?

Kepada beberapa media yang menghubunginya Jumat malam, Ir Zaim Saidi memberikan klarifikasinya, bahwa itu hanyalah analogi, dan membacanya mesti dengan tepat.

“Kesalahpahaman saja itu, karena saya dianggap menyerupakan dokter dengan pemabok,” ujarnya.

“Itu sebenarnya tanggapan umum saya soal vaksinasi yang masih banyak kontroversi. Ada soal kehalalannya, ada soal keamanan dan risikonya, dan ada soal efektifitasnya. Kan saya katakan bahwa itu hak orang tua, artinya masyarakat kan boleh memilih mau divaksin atau tidak,” tambahnya.

“Adapun soal analogi ‘seperti bicara miras dengan pemabok’ itu kan merujuk pada soal relasi, soal kedekatan, dan kepentingan. Dokter kan berkepentingan langsung dan sebagai pengguna vaksin, karena itu  kalau berbicara dengan dokter kan ya tidak netral. Ada kepentingannya. Sedang masyarakat perlu sumber rujukan lain yang netral,”  ujarnya.

Jadi, jelas bukan dokter dan pemaboknya, atau miras dan vaksin, yang diserupakan. Tapi relasi kedekatannya yang  digambarkan seperti miras dan peminumnya.  Di sinilah terjadi kesalahpahaman menurut Ir Zaim yang sejak di YLKI dulu selalu kritis dengan dunia medis dan layanan kesehatan.

“Semoga klarifikasi ini membuat suasana jadi adem ayem, meredam suasana” Ir Zaim menambahkan. Yang ingin dia sampaikan pesan pokoknya adalah, karena adanya kontroversi dia atas,  masyarakat tetap harus bebas memilih sesuai dengan kemaun dan haknya sebagai konsumen yang informed.