Kiat Membongkar Kebohongan di Kantor dengan Cara CIA

Satu kebohongan kecil hampir saja membuat Andrew Bauer kehilangan kliennya yang paling berharga.

Direktur Eksekutif Royce Leather -perusahaan asal New York, Amerika Serikat, yang memproduksi aksesoris perjalanan kelas atas, siap untuk meluncurkan produk terbarunya di sebuah pusat perbelanjaan besar pada tahun 2014. Sekitar seminggu sebelum acara peluncuran, Bauer memeriksa kembali kesiapan dari berbagai aspek.

Apakah barang-barang sudah dipesan? Manajer operasional perusahaan menjawab ya.

Dua minggu kemudian, Bauer menerima telepon dari pusat perbelanjaan itu, menanyakan kapan barang-barang akan sampai. Saat itulah Bauer mengetahui jika pesanan tidak pernah dibuat.

“Mengecewakan,” katanya. “Dan itu merusak hubungan kami [dengan pusat perbelanjaan].”

Yang paling mengagetkan Bauer adalah, sang manajer operasional -dengan pengalaman 30 tahun di bisnis ini- telah berbohong kepadanya.

Meskipun Bauer mengatakan karyawannya pada umumnya jujur, orang-orang selalu melakukan kebohongan. Dalam setiap 10 menit pembicaraan, 60% orang dewasa berbohong setidaknya sekali, menurut Universitas Massachusetts tahun 2002.

Kebanyakan merupakan ‘kebohongan sosial’, bohong yang tidak merugikan yang kita semua lakukan, tetapi beberapa merupakan bohong yang lebih besar dengan konsekuensi lebih serius, kata Michael Floyd, salah seorang pendiri QVerty, perusahaan analisi perilaku untuk membantu orang dan perusahaan mendeteksi kebohongan.

Menangkap bohong kecil di tempat kerja

Menangkap kebohongan karyawan di tempat kerja menjadi semakin penting, kata Floyd, mantan agen Central Intelligence Agency Amerika Serikat, CIA, yang ikut menulis buku Get The Truth : Former CIA Officers Teach You How To Persuade Anyone to Tell All.

Perusahaan khawatir akan penipuan, peretasan komputer, dan karyawan unggulan membawa rahasia perusahaan ke pekerjaan barunya dan banyak hal lainnya, kata Floyd. Karyawan ingin tahu jika atasan juga berbohong.

Alasan utama kita berbohong kecil adalah untuk menghindari konsekuensi yang tidak menyenangkan, kata Floyd. Dalam kehidupan sehari-hari, orang menjawab “saya baik-baik saja” ketika ditanya “apakabar?” untuk menghindari pembicaraan yang tidak menyenangkan tentang hari yang buruk yang mereka jalani.

Dalam dunia bisnis, orang-orang melakukan semua hal yang tidak mengenakkan dan berbohong tentang hal tersebut secara alami, karena tidak ingin menghadapi benturan.

Contohnya, tahun 2006 Sanjay Kumar, mantan direktur eksekutif Computer Associates, dihukum karena perannya dalam skandal akuntansi sebesar US$2.2 juta atau sekitar Rp28 miliar dengan tuduhan memberikan laporan keliru tentang pendapatan lisensi perangkat lunak dan berbohong kepada para investor. Kumar dipenjara 12 tahun oleh pengadilan.

Kunci untuk mengidentifikasi pembohong: mengerti kenapa orang berbohong dan mengetahui petunjuk yang datang sebelum buktinya muncul ke permukaan.

Petunjuk yang diberikan

Orang bisa menentukan secara akurat apakah seseorang berbohong atau tidak hanya sebesar 54% dalam satu waktu, kata Dr Gordon Wright, ilmuwan perilaku di London, mengutip penelitian.

Setiap orang berbohong dengan cara yang berbeda, jelasnya dan kita cenderung berpikir setiap orang jujur.

“Kita semua memiliki prasangka jujur,” kata Wright. “Jika kita tidak menganggap orang-orang jujur kepada kita, maka seluruh proses komunikasi akan hancur.”

Seseorang dapat memprediksinya dengan melihat perilaku tertentu, kata Wright. Secara mengejutkan, perilaku tersebut bukanlah yang diharapkan orang.

Kebanyakan orang percaya pembohong menghindari pandangan mata atau mengubah pandangan dengan cepat ke kiri atau kanan ketika mereka tidak jujur, tapi tidak ada bukti hal itu benar, kata Leanne ten Brinke, seorang profesor psikologi di Universitas California, Berkeley.

Faktanya, para pembohong sering tidak punya masalah untuk melihat mata lawan bicaranya, karena mereka tahu jika mereka melihat ke arah lain, orang-orang akan kurang mempercayai mereka.

Jadi orang sebaiknya memberi perhatian pada ekspresi wajah karena perasaan tidak bisa dibohongi, katanya. Ketika orang mengarang sesuatu, mereka sering mencoba untuk meniru emosi, tapi otot di wajah kita tidak akan bereaksi kecuali emosi tersebut nyata.

Senyuman adalah contoh bagus, katanya. Senyuman akan mengaktifkan otot yang menciptakan kerutan di sekitar mata. Dengan senyuman palsu, kita akan menggerakkan mulut ke atas, tetapi otot mata tidak akan bergerak. Tidak mudah untuk dilihat, tetapi juga tidak mustahil. “[Senyuman palsu] terlihat tidak sempurna dan tidak jujur,” kata Brinke.

Berbohong juga membutuhkan usaha mental yang besar. Dibutuhkan cerita yang masuk akal tanpa memberikan terlalu banyak rincian, tetapi juga tidak melupakan terlalu banyak. Pembohong cenderung memberikan lebih sedikit informasi ketimbang seorang yang jujur dan mereka sering ragu atau berhenti terutama jika belum melatih kebohongannya lebih dulu, dia menjelaskan.

Cara CIA

Kita juga bisa mengetahui seseorang berbohong dengan melihat reaksi mereka terhadap pertanyaan.

Setelah bertahun-tahun menghadapi wawancara dan interogasi, Floyd dan rekan-rekannya di CIA mengembangkan metode pendeteksi kebohongan dengan menganalisis bagaimana orang bereaksi atas pertanyaan. Mereka menemukan lima pertanda.

Pertama, petunjuk nonverbal sangat penting. Orang yang membuat gerak tubuh berlebihan, seperti meletakkan tangan di muka atau berdehem cenderung berbohong, katanya.

Tanda lain: ketika seseorang menghindar untuk menjawab pertanyaan. Membuat pernyataan yang membujuk -mengatakan hal-hal yang meyakinkan untuk memberi kesan semuanya baik-baik saja -juga merupakan sebuah pertanda.

Bersikap agresif atau menyerang seseorang juga merupakan indikasi kebohongan. Kemudian ada manipulasi, ketika orang berusaha mengendalikan situasi dengan cara mengulang pertanyaan dan memberikan pernyataan yang tidak menjawab, seperti “itu pertanyaan yang bagus”.

Floyd butuh melihat setidaknya dua dari perilaku tersebut sebelum bisa menyimpulkan seseorang tidak bisa dipercaya, dan lebih banyak perilaku yang muncul lebih baik. Ketika ia melihat seseorang merespon dengan lebih dari satu perilaku seperti di atas, ia cukup yakin seseorang tidak berkata jujur.

Konteks juga penting, kata Wright. Jika sebuah perusahaan sedang menderita secara finansial dan atasan mengatakan tidak akan ada pemecatan, Anda mungkin akan berpikir keras apakah sang atasan berkata jujur.

Para manajer akan mendapat keuntungan jika mengawasi para karyawan yang menggerutu bereaksi terhadap pertanyaan, dan apakah mereka menunjukkan tanda-tanda perilaku berbohong.

Tetap saja sulit untuk mengetahui apakah seseorang bersikap tidak jujur jika kita tidak secara terus menerus mengupayakannya. Kebanyakan orang tidak memperhatikan petunjuk verbal dan visual setiap harinya.

Meskipun pernah disakiti kebohongan, pimpinan eksekutif Royce Leather, Bauer, tidak ingin memeriksa setiap kata yang diucapkan karyawannya, tapi berusaha waspada terhadap cara stafnya berbicara kepadanya. Ia berharap dengan membangun kepercayaan dan memperbaiki hubungan dengan para pekerja, maka tidak ada karyawan yang perlu berbohong.

“Hubungan mengalahkan kebohongan,” katanya. “Jalankan perusahaanmu dengan integritas, keterbukaan dan kejujuran pada diri sendiri maka orang-orang tidak akan punya alasan untuk berbohong.”

sumber:  www.bbc.com/indonesia

Leave a Reply